Klub Motor Bukan Geng Motor?
Aksi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok oknum tertentu sambil mengendarai roda dua atau motor membawa dampak yang negatif bagi klub-klub motor pada umumnya.
Selain menjadi waswas mengenai keselamatan para anggota yang tidak ingin menjadi korban dari arogansi geng motor, klub motor kerap dianggap sama dengan geng motor oleh sebagian masyarakat yang kurang paham.
Aksi brutal yang dilakukan geng motor tak hanya mengundang keprihatinan. Namun, keresahan klub motor yang ada di tiap kota di Indonesia.
Keresahan klub motor beralasan. Karena, selama ini, ada masyarakat belum bisa membedakan antara klub/ komunitas motor dengan geng motor.
“Kalau masyarakat tahu itu tidak apa-apa. Yang jadi masalah jika masyarakat tidak tahu bedanya. Dan itu akan mencemarkan nama baik klub akibat ulah geng motor,” kata salah satu Ketua klub motor.
Dia menjelaskan bahwa antara klub motor dan geng motor itu perbedaannya sangat jauh.
“Klub motor itu punya struktur organisasi sehingga visi dan misi jelas. Sementara geng motor itu hanyalah kelompok yang tidak punya aturan,” katanya.
Ketidakaturan geng motor tersebut, kata dia, bisa dilihat dari tampilan motor serta kesadarannya mematuhi aturan berlalu lintas.
“Butuh pendekatan persuasif. Misalnya saja ada anggota klub yang tinggal di kawasan tertentu secara personal mendekati oknum geng motor dan pelan-pelan dibina. Saya pribadi menganggap cara ini lebih efektif,” katanya.
Dikatakannya, untuk mengenali geng motor, bisa dilihat dari safety riding-nya.
“Misalnya tidak memasang kaca spion, hobi balap. Klub motor juga ada yang balap tapi pada tempatnya seperti pada event otomotif road race. Tidak seperti geng motor yang balap di jalan raya,” katanya.
Geng motor, lanjut dia, kadang juga menamai kelompoknya. Meski demikian, geng motor tidak terorganisir, tidak memiliki aturan main berdasarkan AD/ART, serta visi misinya yang tidak jelas.
Salah satu ketua klub motor lainnya, menambahkan, rata-rata geng motor itu kerap unjuk kemampuan di jalan raya dengan ciri suara knalpot motor yang memekikkan telinga.
“Suka balapan liar, penampilan motor juga tidak standar berkendara, seperti suara knalpot yang memekikkan telinga, spion tidak ada. Sementara klub motor itu lebih kepada kegiatan yang sifatnya sosial, bukannya merugikan masyarakat,” ujar dengan suara lantang.
Geng motor Pita Kuning Bikin Resah Warga jakarta
Sekitar 200 orang bersepeda motor melakukan penyerangan di sejumlah tempat di Jakarta, Kamis hingga Jumat pekan lalu (13/04-12). Kejadian itu menelan korban jiwa dan merusak sejumlah tempat. Kinerja Polri lantas dipertanyakan karena tak seorang pun dari mereka bisa ditangkap.
Menanggapi hal itu, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution mengaku pihaknya kesulitan mengejar geng motor berpita kuning tersebut. Sebab, mereka langsung melarikan diri setelah kejadian.
“Jadi, kita mengejarnya juga entah ke mana karena saksi sangat minim sekali. Walau pun ribuan orang tapi kalau tidak ada yang berikan kesaksian sama saja kan?” kata Saud di Mabes Polri, Jakarta Selatan.
“Banyak rombongan sepeda motor, tidak mungkin cek satu per satu. Belum tentu juga ada petugas di lapangan yang mengikuti itu. Apalagi mereka mobile cepat,” tandas Saud memberikan alasan.
Untuk itu, kata Saud, pihaknya menunggu warga yang berada di lokasi kejadian untuk bersedia memberi keterangan.
“Ini sangat sulit karena saksi sangat minim. Kita harapkan masyarakat jangan takut berikan informasi sebanyak mungkin biar cepat mengungkapnya,” kata Saud menutup pembicaraan.
(dari berbagai sumber)





Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed




