Sejarah datang dan pergi, begitu juga perusahaan baru muncul dan berkembang sementara yang tua harus berjuang atau ditinggalkan konsumen, namun bagaimana bila perusahaan legendaris yang harus tutup toko tersebut adalah sang legenda Kodak? Dulu waktu kecil penulis ingat saat-saat memakai kamera manual dan saat mengganti film yang teringat adalah Kodak. Namun sekarang kita tidak akan menemui merek Kodak lagi karena sekarang Kodak telah dinyatakan bangkrut. Sebagai perpisahan kami mengetngahkan sejarah dari Kodak.
George Eastman lahir pada 12 Juli 1854 di Waterville, dekat New York, Amerika Serikat. Ia lahir dari keluarga miskin. Ketika usianya masih sangat muda, ia harus ikut memikul tanggung jawab menghidupi keluarga. Dia mula-mula bekerja sebagai kurir di sebuah Perusahaan asuransi, lalu menjadi pegawai arsip. Sambil bekerja, Eastman belajar Akuntansipada malam harinya. Pada usia 24 tahun, ia diterima bekerja sebagai pegawai junior di sebuah bank.Kesukaannya pada fotografi membuat Eastman terus-menerus bereksperimen dengan emulsi di laboratorium yang tak lain adalah dapur ibunya. Ia kemudian menemukan resep emulsi untuk fotografi pelat kering yang segera dipatenkan olehnya pada tahun 1880, dengan dana tabungan dan pembelian hak patennya oleh sebuah perusahaan fotografi di Inggris. Eastman mulai memproduksi pelat foto kering dan menjualnya di sebuah ruang loteng sewaan.
Tak hanya itu, meski periset merekalah yang menemukan kamera digital pertama kali pada 1975. Kodak lagi-lagi lambat menerima fotografi digital mereka terus fokus pada pembuatan film. Akhirnya perusahaan itu kembali dilibas pesaingnya.
Pada dengar pendapat Kamis petang, kuasa hukum mewakili kreditur untuk Kodak mempertanyakan rencana manajemen yang ingin meminjam 950 juta dolar agar perusahaan tetap mengapung meski dalam proses kebangkrutan. Mereka tahu betul, perusahaan sudah menghanguskan 2 milyar dolar dalam dua tahun terakhir ketika berupaya menemukan diri kembali.
“Dari prespektif kami, apa yang terjadi di masa lalu adalah prolog saat ini,” ujar kuasa hukum para kreditur, Michael Stamer. “Mereka telah mengambil langkah yang kami yakini pembelanjaan ceroboh dan merusak hingga membawa berakhir sepert ini,” ujarnya.
Hakim kasus perdata kebangkrutan federal, Allan Gropper, yang memantau kasus tersebut berkata, “Kodak adalah lembaga bisnis besar Amerika dan setiap kreditur di sini, saya yakin ingin menyaksikan perusahan ini segera keluar dari Pasal 11 sesegera mungkin dan kembali sejahtera. Pertanyaan hari ini adalah bagaimana mencapai itu dengan cepat dan sederhana.
Pada akhir dengar pendapat, Kodak memenangkan persetujuan sebesar 650 juta dari kucuran Citigrup. Tugas pertama Kodak bisa jadi ialah menjual paten yang memang sudah ingin dilepas. Meski pembeli mungkin cemas dan takut, penjualan yang diawasi pengadilan akan menjamin proteksi lebih besar terhadap pemalsuan dan klaim-klaim lain. Kuasa hukum Kodak memperkirakan paten-paten yang dimiliki Kodak memiliki nilai 2,2 hingga 2,6 milyar dolar.
Jika penjualan berhasil–dan bergantung pada seberapa banyak yang tersisa, Kodak akan meyakinkan pengadilan bahwa mereka kini telah memiliki rencana bisnis berpotensi hidup. Maklum karena selain hutang perusahaan, Kodak pun saat ini dihadapkan pada tanggungan uang pensiun dan kesejahteraan bagi karyawanannya sesuai standar Amerika.
Direktor manajer dari Conway Mackenzei, Lawrence Perkins, sebuah lembaga restrukturisasi dan konsultasi keuangan, mengatakan kebangkrutan bisa membuat Kodak kembali dengan awalan baru. Namun itu pun bukan perkara mudah. “Ini akan menjadi proses sangat sulit,” ujarnya. “Seperti yang lain bisnis telah berevolusi dan sulit untuk mengubah halauan sejarah yang sudah berdiri 130 tahun.”

